Ketupat Makanan Khas Lebaran Yang Sarat Makna

Menu apapun di Hari Raya Lebaran tentunya terasa kurang afdol apabila tidak ditemani dengan ketupat sebagai pertanda masuknya bulan syawal bagi masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Tapi apakah kita tahu asal usul ketupat itu sendiri? Yuks kita simak bersama sejarah ketupat yang menjadi ciri khas Lebaran.

Menurut sejarawan Belanda H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Sunan Kalijogo sebagai salah satu Walisongo memberikan andil besar dalam penyebaran agama Islam di pedalaman Jawa dengan melakukan akulturasi budaya Jawa atau agraris dengan Islam, lalu memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat. Dalam dakwahnya beliau memasukkan makna filosofi  ketupat sebagai berikut:

1. Bentuk dari ketupat tersebut, diartikan dengan kiblat papat limo pancer. Papat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin utama: timur, barat, selatan, dan utara. Artinya, ke arah manapun manusia akan pergi ia tak boleh melupakan pacer (arah) kiblat atau arah kiblat (salat).
2. Mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua.
3. Mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, kata ketupat berasal dari kupat. Parafrase kupat adalah ngaku lepat: mengaku bersalah. Janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” yang bisa diartikan hati nurani. Secara filosofis beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi. Dengan demikian bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.
Share on Google Plus

About anton cabon

Terimakasih kepada Webmaster Uongjowo atas izin re-post konten asli yang ada di blog ini "Biographical Info" of New Technology Blog.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment